Integrasi Kearifan Lokal dalam Pembelajaran Sejarah di Palu, Donggala, Sigi, dan Parigi Moutong
Abstrak
Artikel ini bertujuan mendeskripsikan implementasi serta mengidentifikasi integrasi kearifan lokal dalam pembelajaran sejarah di Kota Palu, Kabupaten Donggala, Kabupaten Sigi, dan Kabupaten Parigi Moutong, Provinsi Sulawesi Tengah. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan desain studi kasus multisitus. Subjek penelitian terdiri atas 14 guru sejarah pada jenjang SMP/sederajat dan SMA/sederajat di keempat wilayah. Data dikumpulkan melalui observasi, angket terbuka berbasis Google Forms, dokumentasi, dan studi literatur, lalu dianalisis menggunakan model interaktif Miles dan Huberman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengintegrasian kearifan lokal dalam pembelajaran sejarah belum berjalan merata. Guru terbagi ke dalam tiga kategori, yakni yang menerapkan secara konsisten, terbatas dan sporadis, serta yang sama sekali belum menerapkan. Penelitian ini mengidentifikasi enam problematika utama, yaitu: (1) keterbatasan sumber daya dan referensi sejarah lokal, (2) keterbatasan pengetahuan guru tentang sejarah dan kearifan lokal daerah, (3) kesulitan mengintegrasikan muatan kearifan lokal ke dalam kurikulum nasional, (4) rendahnya minat peserta didik akibat budaya luar dan digitalisasi, (5) keterbatasan media pembelajaran serta biaya akses ke situs sejarah, dan (6) kurangnya keterlibatan masyarakat sekaligus persoalan validitas informasi sejarah lokal yang bersumber dari tradisi lisan. Akar persoalan tersebut bersifat struktural sekaligus kultural. Penelitian ini merekomendasikan penyusunan bahan ajar sejarah lokal secara kolaboratif, pelatihan guru secara berkala, dan penguatan jejaring antara sekolah, komunitas adat, serta lembaga kebudayaan.
Kata Kunci: pembelajaran sejarah; kearifan local, problematika, Sulawesi Tengah, guru sejarah.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2026 Magau Historia Jurnal

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
