From The Baligau of Tatanga To Local Elites: Transformation of Power Songgolangi’s Descendants in Palu City
Kata Kunci:
Genealogi, Elite Lokal, Songgolangi, Tatanga, Historiografi.Abstrak
Penelitian ini mengkaji genealogi dan transformasi kekuasaan keturunan Songgolangi dalam dinamika sejarah lokal di Palu. Kajian ini dilatarbelakangi oleh kuatnya dominasi historiografi kolonial yang cenderung menempatkan konflik lokal semata-mata sebagai persoalan keamanan dan tindakan kriminal, tanpa melihat aspek politik serta relasi kekuasaan yang berkembang di balik peristiwa tersebut. Penelitian menggunakan pendekatan historiografi kritis dengan metode kualitatif melalui pemanfaatan berbagai sumber, seperti arsip surat kabar kolonial Belanda tahun 1910–1911, tradisi lisan masyarakat Kaili, dokumen silsilah keluarga, serta catatan sejarah lokal lainnya.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa konflik yang melibatkan Songgolangi dan elite Tatanga merupakan bagian dari kontestasi kekuasaan antara elite lokal dengan pemerintahan kolonial Belanda. Penangkapan Ranggigamagi serta tindakan represif Belanda terhadap kelompok Tatanga menjadi strategi kolonial dalam melemahkan legitimasi kekuasaan tradisional di Lembah Palu. Namun, elite lokal tidak sepenuhnya kehilangan pengaruh politiknya. Melalui proses adaptasi dan integrasi, sebagian keturunan elite Tatanga tetap bertahan dalam struktur sosial dan kekuasaan baru. Tradisi lisan masyarakat menyebutkan bahwa Paliudju, anak Songgolangi, kemudian menjadi orang kepercayaan Djanggola, yang menunjukkan adanya rekonsiliasi politik di antara elite lokal pascakonflik. Pada perkembangan berikutnya, garis keturunan tersebut tetap memiliki pengaruh dalam politik Sulawesi Tengah melalui tokoh seperti Bandjela Paliudju dan Longki Djanggola.
Penelitian ini menyimpulkan bahwa perubahan struktur kekuasaan di Palu dari masa kolonial hingga era modern berlangsung melalui proses kesinambungan genealogis dan penyesuaian elite lokal. Selain itu, budaya lokal nakabunto turut memengaruhi pewarisan ingatan sejarah masyarakat sehingga sebagian besar narasi konflik tetap hidup melalui tradisi lisan.
Kata Kunci: Genealogi, Elite Lokal, Songgolangi, Tatanga, Historiografi.
Diterbitkan
Cara Mengutip
Terbitan
Bagian
Hak Cipta (c) 2026 Magau Historia Jurnal

Artikel ini berlisensiCreative Commons Attribution-ShareAlike 4.0 International License.
